Oktober 16, 2010

Bahaya Earphone

Suka Mendengarkan Musik Lewat Earphone ? Hati-hati Bahayanya !
Telinga manusia ternyata memiliki struktur dan fungsi yang luar biasa. Secara otomatis, telinga memiliki kemampuan untuk meredam suara yang keras menjadi tidak bermasalah bagi pendengaran. Karena selain proses menghantarkan bunyi sehingga kita bisa mendengar, di dalam telinga juga terdapat proses untuk mengurangi paparan bising.
Tetapi telinga juga memiliki batas kemampuan untuk mendengar, sehingga dosis atau batas berapa lama ia boleh terpapar bunyi tertentu tidak boleh melebihi dosis. Sebagai contoh, untuk bunyi letusan senapan yang memiliki intensitas sekitar 110 desibel dan frekuensi yang cukup tinggi, telinga hanya boleh terpapar tidak lebih dari 30 detik. Kalau lebih dari itu, maka akan terjadi penurunan fungsi pendengaran atau trauma bising yang lebih besar.
Singkat kata, telinga memiliki kemampuan yang terbatas untuk mendengar suara pada intensitas tertentu. Telinga hanya boleh mendengar suara yang berintensitas makin tinggi dalam waktu singkat. Dan dosis ini berlaku untuk semua usia.
Beberapa tempat atau kegiatan tertentu ternyata juga memiliki intensitas dan frekuensi bunyi yang bisa berbahaya untuk pendengaran jika terlalu lama terpapar. Beberapa referensi menunjukkan bahwa pusat-pusat kebugaran yang kerap memutar musik dengan volume tinggi juga menyimpan resiko terjadinya trauma bising bahkan ketulian.
Profesi sebagai pilot atau mereka yang bekerja di bandara beresiko lebih besar, karena intensitas kebisingan pesawat terbang yang sangat besar yaitu 145 desibel. Coba bandingkan bunyinya dengan bunyi letusan senapan yang 110 desibel.
Kenapa ? Intensitas suara yang melebihi dosis yang diperkenankan, maka akan sangat menganggu rumah siput (cochlea). Di mana di sini terjadi proses perubahan energi mekanik menjadi energi listrik. Sel-sel rambut getar yang harusnya mentransmisi suara menjadi rusak.
Bentuk rumah siput kita unik, seperti bentuk dua setengah lingkaran. Merupakan kebalikan dari piano, frekuensi tinggi ada di sebelah kiri, dan rendah di sebelah kanan. Nah, rambut getar bertugas mengubah bunyi sesuai freskuensinya, baik tinggi, sedang maupun rendah.
Hanya lima menit per hari
Pola hidup modern juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan pendengaran. Belum lagi lingkungan kita yang ternyata penuh dengan kebisingan. Contohnya, pusat permainan di mal-mal yang ternyata sangat bising. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bising ruangan di tempat tersebut berkisar antara 40-60 desibel. Ini cukup tinggi. Anak yang bermain di tempat tersebut mempunyai paparan bising yang besar, sehingga ada resiko menderita trauma bising atau gangguan pendengaran akibat bunyi yang sangat keras (noise induce hearing loss).
Resiko Pemutar Musik dengan Volume Penuh
Demikian juga dengan pemakaian headset, earphone MP3 atau MP4 player, dan perangkat pemutar musik portable lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika alat pemutarmusik yang disambungkan dengan earphone pada volume optimal atau maksimal (intensitas sekitar 100 desibel), telinga hanya boleh terpapar maksimal 5 menit per hari.
Pada volume 90% (90 desibel) hanya boleh terpapar selama 18 menit. Pada volume 80 % (80 desibel) hanya boleh terpapar 1,2 jam dosis maksimal per hari. Dan, pada volume 70% (70 desibel) hanya boleh sekitar 4,6 jam maksimal per hari. Lebih dari itu, akan meningkatkan resiko terjadinya truma bising yang lebih besar. Jadi, sebaiknya dipakai pada volume rendah karena akan lebih aman.
Ingat pepatah yang mengatakan if it is too loud you are too old ? Semakin sering kita mendengarkan bunyi yang terlalu keras, membuat usia kita akan jauh lebih tua dari usia yang sesungguhnya karena pendengaran kita terganggu.
Fakta lain yang menarik adalah orang-orang dengan trauma bising ternyata lebih sering mengalami gangguan pendengaran khususnya pada frekuensi tinggi. Gambaran audiometrik rekam pendengarannya menunjukkan gambaran takik (notch/penurunan) pada frekuensi 4000 Hertz. Ini yang membuat orang awalnya tidak merasa, karena frekuensi pembicaraan kita sehari-sehari ada diantara 500-2000 Hertz. Sehingga ketika mengobrol biasa, rasanya tidak ada gangguan. Baru setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui terjadi penurunan yang tajam pada frekuensi 4000 Hertz. Sebagian besar kasus gangguan pendengaran akibat trauma bising ditemukan pada saat medical check up.
Tentu, jika ini tidak segera ditangani, penurunan pendengaran akan terjadi di semua frekuensi tinggi 4000 Hertz. Yang tadinya hanya di 4000 Hertz, lama-lama terjadi takik di semua frekuensi alias tuli.
Gejalanya…Telinga Berdenging
Apa sih gejala trauma bising ? Hampir 90% kasus menunjukkan gejala telinga berdenging (tinnitus). Denging yang dialami ini ada dua macam yaitu denging nada tinggi seperti bunti pesawat dan nada rendah seperti bunyi air conditioner. Dua-duanya bisa terjadi dan ini biasanya disertai gangguan pendengaran. Seringkali, yang terjadi adalah cocktail party deafness atau tuli di keramaian.
Ketika berada di tempat yang ramai, orang sulit mendengar karena fungsi cochlea menurun. Latar belakang yang bising akan sangat mengganggu kualitas penerimaan bunyi oleh cochlea. Misalnya, ketika berada di mal, ia akan bingung karena tidak bisa mendengar.
Sebetulnya kita bisa melakukan pencegahan 100% agar kasus trauma bising ini tidak terjadi. Yang pertama dengan upaya promotif preventif. Caranya, waspada terhadap bising di sekitar kita. Misalnya pakai perangkat pemutar musik tapi tak perlu disetel dengan volume (tingkat suara) penuh.
Atau, ketika orang tua mengajak anak-anak ke mal, sebaiknya perhatikan seberapa bising tempat tersebut. Tak perlu berlama-lama bila memang tempatnya sangat bising. Kita harus menghindari atau mengurangi paparan bising secara aktif.
Yang juga tak kalah penting sebetulnya adalah kesadaran para pemilik tempat usaha, seperti mal. Ada baiknya mereka mengukur kebisingan ruangan (sound level meter) dan mengumumkannya kepada pengunjung.
Ada dua efek trauma bising, yaitu temporer dan permanent. Pada trauma bising temporer, dengan istirahat cukup, fungsi telinga bisa dipulihkan. Namun, trauma bising permanent sulit disembuhkan.
Nah, lebih baik melakukan tindakan pencegahan daripada mengobati, bukan ?
Waspada dengan si Kecil
Orangtua sangat dianjurkan untuk waspada ketika mengajak anak bermain ke lingkungan atau tempat bermain yang bising. Mereka harus memperkirakan berapa tingkat kebisingan tempat tersebut. Jika terlalu bising, sebaiknya tak perlu berlama-lama atau pakaikan earplug ke telinga anak. Di rumah, perhatikan juga apakah anak mengalami gangguan pada pendengarannya.
Yang paling sederhana adalah pada saat anak menonton teve, biasanya ibu-ibu di rumah lebih peka. Kalau anak cenderung mendekat ke layar teve atau volumenya diperkeras oleh anak, orangtua sebaiknya waspada, karena mungkin saja ini merupakan gejala dini terjadinya gangguan pendengaran pada anak.
Jika anak memang suka sekali mendengarkan musik lewat earphone, biasakan agar tidak memasang volume secara penuh. Jangan sampai anak tetap mendengarkan musik sampai tertidur dengan pemutar musik masih menempel di telinga. Ini sangat berbahaya bagi pendengarannya.
Tips Yang Benar Menggunakan Earphone
Tips ini berguna banget bagi pembaca yang hobi dengar musik dengan eraphone atau headphone. Karena ada efek-efek buruk yang mungkin tidak kita sadari Agar terhindar dari ketulian, gunakan alat pemutar musik dengan baik dan benar. Bagimana caranya, berikut tipsnya yang saya kutip dari Vivanews :
1. Volume tidak boleh lebih dari 80 db atau tombol volume dipasang pada 50-60 % total volume.
2. Jangan terlalu lama mendengarkan musik melalui earphone, apalagi terus menerus. Beri istirahat telinga setiap ½ -1 jam. Sebab jika organ dalam koklea merasa capek, pendengaran bisa mengalami rusak permanen.
3. Gunakan alat pemutar musik yang memiliki volume control
4. Jangan gunakan alat pemutar musik dalam pesawat terbang atau pada lingkungan ramai, sebab di situasi itu Anda cenderung menaikkan volume yang akan merusak pendengaran.
Nah gimana pembaca?? Masih suka dengar musik keras-keras dengan eraphone/headphone ?? Atau kita akan menyia-nyiakan karunia Alloh SWT yang satu ini. Monggo pilihan terserah anda.
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING

Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran, yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB). Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap.

Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu trauma akustik, perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noise-induced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noise-induced permanent threshold shift).

Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea.

Pada trauma akustik, cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata, namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen.

Tidak ada komentar: